Category Archives: Opini & Analisis

Berbagai opini dan tulisan khusus terkait perjuangan Papua Merdeka, berupa analisis, kritik, masukan dsb.

Tersangka Penyerangan Polsek Abe Masih Dirawat

JAYAPURA (PAPOS) –Sementara, dua tersangka kasus penyerangan Mapolsek Abepura 9 April 2009 lalu, menurut Direktur Reserse Kriminal Polda Papua Kombes Pol Bambang Budi Pratikno masih menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara. Perawatan itu karena luka tembak yang diderita belum sembuh.

“Polisi akan menunggu kedua tersangka ini sembuh sebelum melanjutkan proses hukum mereka,”katanya di Jayapura, Selasa (28/4) kemarin.

Kedua tersangka itu adalah DA dan YY.”Mereka harus diobati dulu hingga sembuh. Ini hak mereka berdua. Tidak boleh kami memeriksanya lalu menyerahkan mereka ke kejaksaan dalam keadaan sakit,” katanya di Jayapura, Selasa (28/4) kemarin.

Selain mendapatkan perawatan medis, Polda Papua juga akan mengupayakan keduanya didampingi pengacara selama menjalani penyidikan. Keduanya menderita luka tembak saat menyerang kantor polisi Kamis 9 April 2009 sekitar pukul 01.00 WIT bersama belasan orang kelompok kriminal bersenjata.

Dalam kasus Papua telah menetapkan tujuh tersangka namun satu tersangka dijerat dengan kasus pencurian. “Satu tersangka mencuri HT milik polisi. Dia tidak terlibat langsung penyerangan tapi pencurian,” katanya.

Sementara itu, dua tersangka tewas karena terkena tembakan polisi yang berusaha mencegah kelompok kriminal ini merusak Mapolsek Abepura. Kelompok ini menyerang kantor polisi dengan panah dan bom rakitan.

Kasus penyerangan kantor polisi yang terjadi hanya beberapa jam menjelang Pemilu itu mendapatkan perhatian serius dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden memanggil Menkopolhukam Widodo AS, Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dan Kepala BIN Syamsir Siregar ke rumah pribadinya di Cikeas, Bogor untuk membahas masalah ini.(ant)

Ditulis oleh Ant/Papos
Rabu, 29 April 2009 00:00

Agus Alua: Bukan Ulah Separatis OPM

Agus A. AluaJAYAPURA (PAPOS) –Serentetan peristiwa yang terjadi di Jayapura, menjelang dan usai Pemilu legislatif seperti pembakaran Rektorat Uncen, penyerangan Polsekta Abepura, terror bom, penikaman warga sipil, bukan ulah separatis OPM.

“Itu tindakan kriminal. Karena umumnya, mereka merusak fasilitas umum,”kata Ketua MRP Drs Agus Alue Alua kepada wartawan saat jumpa pers di kantor MRP, Selasa (14/4) kemarin.

Agus, bahkan menilai tindakan-tindakan semacam itu termasuk pelanggaran HAM (Hal Asasi Manusia). Soalnya selain merusak fasilitas umum, aktifitas warga sipil juga terganggu.

Hak hidup setiap warga negara harus dihormati, namun jika ada perbedaan idiologi, sebaiknya diselesaikan secara demokrasi dan damai. Tetapi jika penyelesaian dengan cara kekerasan akan menjurus kepada pelanggaran HAM.

“Siapa saja yang melakukan atau melenyapkan dan berusaha menghilangkan nyawa seseorang itu tetap pada pelanggaran HAM”, kata Agus.

Agus tidak yakin tidakan anarkhis itu dilakukan oleh kelompok OPM. Pasalnya OPM tidak mungkin merusak pasilitas umum, karena mereka tidak berada di kota melainkan di hutan atau datang dari PNG.

“Ini harus dipastikan supaya citra orang-orang yang melakukan aksi pengrusakan dan penyerangan bisa dikategorikan dilakukan oleh OPM atau masyarakat Jayapura yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah,” pungkasnya.

Menurut Alue, bisa saja perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan orang-orang yang aspirasinya tidak dipenuhi, sehingga dilampiaskan dengan berusaha menggagalkan Pemilu.

Oleh karena itu, MRP menghimbau kepada aparat keamanan dalam hal ini Kepolisian segera mengidentifikasi siapa orang-orang itu, dan mencari tempat mereka bermungkim.

“Supaya dapat dibedakan apakah mereka OPM atau masyarakat biasa yang kecewa dengan kebijakan pemerintah,”terangnya.

MRP berharap Kepolisian menanganinya sebagai kasus kriminal dengan melakukan pendekatan secara persuasif. Katanya, pola pendekatan seperti itu hendaknya dikedepankan agar tidak menimbulkan korban.

Selain itu, MRP menginginkan kejadian itu diidentifikasi secara cermat dan penyisiran yang dilakukan di kampung-kampung dengan profesional maupun persuasif supaya masyarakat yang tidak bersalah tidak terganggu.

MRP juga menilai dari gaya penyerangan Polsekta Abepura masih termasuk dalam kategori kriminal, karena OPM yang melakukan penyerangan akan menggunakan strategi-strategi langsung kepada oknumnya seperti Brimob, Polda, Kodam.

“Karena itu musuh OPM. Dari dulu sampai sekarang mereka berkelahi dengan pos-pos polisi maupun pos-pos tentara di tengah hutan,”ujarnya.

MPR menilai tindak ini harus ditangani sebagai kasus criminal melalui pendekatan persuasif untuk mengeleminir orang lain yang tidak bersalah.” Pengalaman selama ini dari peristiwa ke peristiwa masyarakat gunung terus menjadi sasaran oleh aparat keamanan,”kata Agus.(cr-47)

Ditulis oleh Cr-47/Papos
Rabu, 15 April 2009 00:00