Tag Archives: features

Korban Penembakan OPM ‘Tuntut’ HAM

TPN/OPM pimpinan Goliat Tabuni

korban : Salah satu korban penembakan TPN/OPM di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya pada April lalu saat dievakuasi ke Jayapura. Apakah mereka juga korban pelanggaran HAM yang dilakukan TPN/OPM pimpinan Goliat Tabuni?

korban : Salah satu korban penembakan TPN/OPM di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya pada April lalu saat dievakuasi ke Jayapura. Apakah mereka juga korban pelanggaran HAM yang dilakukan TPN/OPM pimpinan Goliat Tabuni?
JAYAPURA [PAPOS] – Keluarga karyawan PT. Modern korban penembakan TPN/OPM di kampung Mewoluk, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya pada April lalu menuntut Hak Azasi Manusia (HAM) atas penembakan terhadap almarhum Hans Ling Satya (30), Elemus Ramandey (33).

Perwakilan keluarga korban, Rainhard Satya kepada wartawan di Jayapura, Jum’at (21/5) kemarin, kepada wartawan mengatakan, tuduhan pelanggaran HAM yang disampaikan kelompok Eksnas Front Pepera PB terhadap aparat keamanan [Polisi/TNI] yang melakukan penambakan terhadap anggota kelompok kriminalitas bersenjata atau OPM hingga tewas di Tingginambut, Puncak Jaya menyulut keluarga korban untuk bersuara.

Rainhard Satya yang merupakan adek dari almarhum Hans Ling Satya, dan Elemus Ramandey menegaskan bila mereka mengatakan penembakan terhadap pelaku Kriminalitas bersenjata itu pelanggaran HAM, maka dirinya bersama keluarganya menuntut atas penembakan terhadap keluarganya [adiknya] yang di lakukan TPN/OPM.

“ Saya ingin tau kalau ada yang menuntut HAM atas penembakan terhadap pelaku kriminalitas itu, maka bagaimana terhdap kami. Jadi tolong kalau ada orang membuang issu bahwa TNI/Polri yang menembak Werius Telenggen [WT] adalah pelanggaran HAM, maka kami minta kepada mereka agar penembakan terhadap adik kami juga dibawa dalam HAM,” ujar Rainhard.

Rainhard menegaskan, dari pihak keluarga kami akan menuntut HAM juga kepada kelompok separtis bersenjata [TPN/OPM] yang mengakibatkan dua keluarga kami meninggal dunia.

“ Kami menyampaikan bahwa pelaku penembakan itu adalah di bawah pimpinan Goliat Tabuni,” tegasnya

Tak hanya itu, Istri dua anak dari almarhum Hans Ling Satia sampai saat ini tidak berbuat apa-apa serta merasa sakit hati atas perbuatan separitis itu.

“ Welly Rumasep Satya (26) istri dari Almarhum Hans Ling bersama anaknya sampai saat tidak menuntut HAM kepada pelaku kriminal bersenjata itu, kok mereka yang jatuh korban mengatakan pelanggaran HAM dan menuntut aparat bahwa itu HAM. Apakah tidak terbalik,” ujarnya.

Lanjut dia, penembakan yang dilakukan TNI/Polri terhadap pelaku kriminal bersenjata itu adalah tindak sesuai dengan hukum maka hal tersebut, tidak seenaknya menuntut HAM atas tindakan yang dilakukan. “ Bila mereka menuntut hukum maka keluarga kami juga menuntut HAM bagi mereka,” tandasnya dengan suara nada keras.

Rainhard mengatakan kejadian penambakan yang selama ini dilakukan oleh kelompok separatis kriminal besenjata, meminta kepada aparat TNI/Polri untuk segera melakukan tindakan penangkapan, karena mereka sangat membuat tidak nyaman masyarakat yang ada di sana.

Sementara itu, Kepala Kepala Kampung Purleme, Distrik Mulia Kabupaten Puncak Jaya, Sem Telenggen mengatakan, sejak tahu 2004 hingga sekarang ini, pemerintah mengeluarkan dana paling besar di kabupaten Puncak Jaya, namun kelompok Goliat Tabuni melakukan pengrusakan disana, bahkan melakukan penembakan terhadap yang hampir 50 orang tewas dan para keluarga korban tidak menuntut bahwa itu adalah HAM.

“Kenapa masyarakat yang terkena tembak itu tidak bilang pelanggaran HAM, jadi mereka yang jatuh korban dibilang pelanggaran HAM,” tandasnya

Lebih jauh Sem Telenggen menyampaikan, bila ada yang mengatakan bahwa penembakan terhadap anggota kelompok Goliat Tabuni itu pelanggaran HAM. Itu sangat tidak benar, Aparat melakukan tindakan karena atas perbuatan mereka yang selama ini membuat masyarakat sengsara, bahkan melakukan pengrusakan atas pembangunan pemerintah.

Dia menegaskan, kelompok Goliat Tabuni tidak hanya melakukan penembakan dan pengerusakan kepada penduduk asli, kelompok itu juga melakukan pemerkosaan terhadap perempuan, karena mereka mengganggap bahwa bagian dari pemerintah, sehingga terpaksa melakukan itu.

Seperti yang dialami istri Yusina Wonda, ia telah diperkosa dan diseret pada bulan April lalu karena istrinya disangka bagian dari pemerintah.

“ Saya dengan istrinya tidak terima atas perilaku yang dilakukan itu, atas tindakan itu, kami meminta kepada aparat untuk menangkap para pelaku tersebut,” tambah Sem dengan nada yang sedih.

Dia mencerikatakan, saat penembakan terhadap kedua karyawan PT. Moderm almarhum Hans Ling Satia dan alm Elemus Ramandey oleh kelompok separatis bersenjata di Kampung Mewoluk, saat itu dirinya langsung menuju ke lokasi kejadian untuk mengambil gambar kedua almarhum yang sedang berada di TKP, kemudian ikut membawa sampai di RS Mulia.[loy]

Ditulis oleh Loy/Papos
Sabtu, 22 Mei 2010 00:00

Kasus Penembakan Oleh Oknum Polisi Direposisi

WAMENA-Untuk memperjelas posisi pelaku, korban dan saksi-saki pada saat kejadian penembakan yang diduga dilakukan oleh salah seorang oknum polisi FT (43) terhadap korban JT Minggu (2/5), anggota Reskrim Polres Jayawijaya menggelar reposisi di Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Hom-Hom Wamena, tepatnya depan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIB Wamena, Sabtu (23/5).

Kapolres Jayawijaya AKBP I Gede Sumerta Jaya SIK didampingi Kasat Reskrim Polres Jayawijaya AKP Philip Ladjar mengatakan, pihaknya menggelar reposisi untuk menunjang proses penyidikan, terhadap kasus penembakan yang diduga dilakukan oleh oknum polisi anggota Polres Jayawijaya.

Dari hasil reposisi tersebut kata Kasat Philip, terlihat jika sebelum kejadian tersangka bersama korban dan beberapa rekannya mengkonsumsi minuman keras jenis ballo.

“Sebelum kejadian pelaku FT bersama 5 orang temannya yaitu JT, BF, NM, AR dan S pesta miras di sekitar lokasi kejadian dengan mengkonsumsi minuman lokal atau ballo, setelah pesta miras istri korban JT yang berinisial L melapor kepada korban jika didirinya pernah digoda oleh seseorang yang berinisial JM,”jelasnya.

Mendengar laporan tersebut, korban dan tersangka yang sama-sama dipengaruhi miras menjadi marah, selanjutnya korban JT berniat mendatangi JM namun niat JT tersebut dihalangi oleh FT, sehingga terjadi perdebatan yang berbuntuk pada aksi dorong mendorong.“Tidak terima dirinya didorong oleh korban, tersangka FT masuk ke dalam rumahnya dan mengambil senjata api miliknya,”papar Kasat
Setelah keluar dari rumah lanjut Kasat, FT melihat JT beranjak pergi, agar JT tidak pergi FT mengancam JT dengan mengeluarkan tembakan yang diarahkan ke tanah, sayangnya pantulan proyektil mengenai batu dan serpihannya mengenai lutut kanan korban.

“Untuk mendapatkan pertolongan medis, JT langsung dilarikan ke RSUD Wamena, setelah mendapatkan pertolongan medis, saat ini korban menjalani operasi di RS Bhayangkara Jayapura untuk mengeluarkan serpihan poyektil, sedangkan tersangka FT ditahan di Polres Jayawijaya menunggu proses selanjutnya,”pungkasnya.

Mengenai sanksi yang diterapkan, Kasat mengungkapkan, tersangka FT dikenakan pasal primer UU darurat no. 12 tahun 1951, subsidair pasal 351 ayat (1) dan (2) KUHP, lebih subsidair pasal 360 KUHP dengan ancaman hukuman terendah 5 tahun dan tertinggi 20 tahun atau pidana mati.(lmn/ary)
(scorpions)