Tag Archives: perang suku

Bentrok Antar Warga, Timika Mencekam – Sejumlah Warga Luka-luka, Dua Rumah Dibakar

TIMIKA – Kasus pengeroyokan yang menewaskan Lambert Rumte (29), sekitar pukul 18.45 WIT Minggu (23/5) malam lalu di salah satu rumah di jalan Freeport Lama, memicu keributan di Kota Timika, Senin (24/5) kemarin, sehingga suasana di Kota Timika, Papua ini menjadi mencekam.

Selain mengakibatkan beberapa warga terluka dan harus dilarikan ke rumah sakit, keributan antar warga itu juga berbuntut pada pembakaran 2 unit rumah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Timika (Cenderawasih Pos Group) menyebutkan, pada pukul 10.00 WIT, beberapa korban penganiayaan dirawat di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Mimika serta Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM).

Korban yang dirawat di RSUD atas nama Kima Wenda (30) yang jari manis sebelah kirinya putus. Beberapa luka lainnya, yakni di lengan kiri dan kanan serta siku, akibat sabetan parang oleh oknum warga di depan Pasar Sentral, kawasan Irigasi. Kemudian korban yang dirawat di RSMM atas nama Marthen Pigome.

Juga dikabarkan terdapat korban lain di salah satu depan hotel di Jalan Ahmad Yani. Berdasarkan informasi yang dapat dipercaya, seorang warga juga terluka.

Sekitar pukul 11.00 WIT, terjadi aksi pertikaian antar dua kelompok warga di depan SMK Petra. Petugas dari Dalmas Polres Mimika serta satu unit mobil Barakuda dari Detasemen B Brimobda Polda Papua datang mengamankan situasi.
Petugas keamanan kemarin melakukan patroli dan mengunjungi tempat-tempat berkumpulnya massa. Beberapa toko ditutup pemiliknya. Warga maupun pengendara sepeda motor dan kendaraan lainnya nampak was-was.

Selama kurang lebih satu jam, Jalan Budi Utomo mulai dari ujung Jalan Kartini hingga ujung Jalan Pattimura, tidak dapat dilalui kendaraan, karena massa berkonsentrasi di wilayah itu.

Akibatnya, beberapa pengendara kendaraan kesulitan mencari akses jalan. Satu-satunya jalan yang dapat dilalui sekitar pukul 11.00 WIT hingga pukul 12.00 WIT yaitu melalui Pasar Damai berbelok ke arah Jalan Ahmad Yani.

Di pinggir ruas-ruas jalan tersebut, warga nampak di tepi-tepi jalan menyaksikan situasi yang berkembang. Warga keluar dari rumah masing-masing untuk melihat apa yang terjadi, sebab mobil petugas keamanan tak henti-hentinya berpatroli.

Petugas mobile mengunjungi tempat-tempat dimana dilaporkan terdapat massa membawa senjata berkumpul, tidak terkecuali di pertigaan Jalan Kartini – Yos Sudarso tepatnya di samping Markas Koramil Kota Timika.

Suasana sempat mereda beberapa saat. Namun Senin sore muncul kabar terjadi aksi anarkis, dimana ada oknum warga dari salah satu kelompok, membakar dua unit rumah milik warga yang terletak di ujung Jalan Busiri – Budi Utomo. Salah satu rumah yang dibakar itu dihuni oleh Paulina P, seorang janda.

Satu unit rumah lainnya yang dibakar, yakni rumah yang dihuni oleh Marthina G, Rebecca N, Akulince N serta Otopia Y beserta tiga orang anak.

Kapolsek Mimika Baru AKP Lang Gia langsung mengunjungi lokasi kebakaran rumah tersebut sekitar pukul 16.00 WIT. Di tempat tersebut nampak dua rumah yang terbuat dari kayu papan ludes dilalap si jago merah.

Paulina P kepada petugas mengatakan rumahnya saat itu diserang oleh beberapa oknum warga. Kapolsek kemudian membawa keluarga yang rumahnya terbakar itu untuk diungsikan ke rumah salah satu warga di Jalan Serui Mekar sekitar pukul 17.00 WIT.

Kapolres Mimika, AKBP. Moch Sagi, SH yang ditemui Radar Timika sekitar pukul 12.00 WIT Senin (24/5) di ujung Jalan Pattimura – Budi Utomo, mengatakan, awalnya pada Minggu (23/5) lalu, diduga terjadi hubungan asmara antara dua orang yang tidak terikat perkawinan. Diduga beberapa warga dari pihak wanita yang tidak terima hubungan itu, kemudian menganiaya sang pria hingga akhirnya meninggal dunia.
Kabar kejadian itu, kata Kapolres, kemudian menyebar kepada warga lainnya dari kelompok korban. Akibatnya Senin (24/5) kemarin terjadi keributan.

Menyikapi penganiayaan yang menyebabkan Lambert Rumte meninggal pada Minggu (23/5) malam, Kapolres mengatakan sebenarnya pihaknya telah melakukan antisipasi. Kabag Ops Polres Mimika dan personel di lapangan telah mendekati tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh lainnya hingga berhasil meredam emosi warga dari pihak korban.

“Tapi karena Timika ini cukup luas, informasi tersebut kemudian menyebar kemana-kemana. Ada kelompok-kelompok tertentu yang “mengenai” salah satu (warga) dari kelompok lainnya. Karena kelompok tersebut terkena, muncul lagi emosi lain, karena masyarakat tersebut tidak tahu masalah,” papar Kapolres.

Ketegangan kemudian terjadi. Hal itu diperparah dengan adanya isu seorang warga diculik oleh kelompok tertentu. “Tapi kita buktikan ke mereka hal itu tidak benar. Seorang warga yang diduga diculik, kita serahkan ke mereka. Alhamdulillah, dalam kondisi sehat, sehingga mereka mundur pelan-pelan (isu warga Kwamki Lama yang akan menyerang Kota Timika, Red)),” papar Kapolres.

Kapolres membenarkan bahwa Senin kemarin ada beberapa korban yang mengalami luka-luka akibat terkena serangan benda tajam. Para korban sudah dirawat di dua rumah sakit yang ada di Timika.
Sedangkan terhadap pelaku pengeroyokan yang menyebabkan Lambert Rumte meninggal dunia, kata Kapolres, pihaknya sedang melakukan penyelidikan. “Kita melakukan penyelidikan dan penyidikan. Kalau terbukti bersalah kita proses,” tandasnya.

Kapolres mengatakan hingga pukul 12.00 WIT kemarin, sebenarnya situasi di Timika dan sekitarnya sudah aman terkendali. Kapolres menghimbau seluruh lapisan masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan isu yang beredar di masyarakat.

Suasana di beberapa titik di Timika kemarin terasa mencekam. Terlihat di sejumlah sudut kota nampak oknum warga berjaga-jaga dengan menggunakan berbagai jenis senjata tajam.

Beberapa lokasi dimana warga berjaga-jaga kemarin, seperti di perempatan Pasar Damai, depan SMK Petra, ujung Jalan Pattimura–Budi Utomo, depan rumah duka Lambert Rumte di Jalan Hassanuddin, pertigaan Jalan Kartini–Yos Sudarso dan beberapa titik lainnya, seperti di batas Kota Timika – Kampung Nawaripi dan juga di Tugu Perdamaian, Timika Indah.

Informasi yang dihimpun Radar Timika dari beberapa saksi menyebutkan, salah satu kelompok warga dari pihak korban, berjaga-jaga sebab muncul isu jika tempat mereka akan diserang oleh kelompok warga lainnya.

Ruas Jalan Hasanuddin, di depan rumah duka, sejak Senin pagi ditutup sebagian dengan tanda bendera hitam. Nampak sejumlah pemuda juga beberapa warga lain berjaga-jaga.(ale/jpnn)
(scorpions)

Situasi Kamtibmas Masih Rawan di Kwamki Lama

TIMIKA [PAPOS]- Situasi kamtibmas di Kwamki Lama, Kelurahan Harapan, Timika, Papua saat ini masih cukup rawan menyusul terjadinya ketegangan antara dua kelompok warga di wilayah itu akhir pekan lalu.

Kapolsek Mimika Baru, AKP Lang Gia kepada ANTARA di Timika, Selasa mengatakan polisi sudah mempertemukan tokoh-tokoh masyarakat dari dua kelompok untuk menghindari terulangnya kembali bentrokan antarwarga.

“Kemarin kami pertemukan para tokoh masyarakat dari dua kelompok. Intinya, semua pihak tidak menghendaki terjadi kembali konflik antarwarga karena peristiwa sebelumnya sudah dinyatakan selesai,” kata Lang Gia.

Ia mengatakan, para tokoh masyarakat yang diundang ke Polsek Mimika Baru dalam pertemuan Senin (22/3) berjumlah sekitar 15 orang. Dari kelompok atas (kawasan Jalan Mambruk II Kwamki Lama) hadir Kariminus Kinal, Yunias Kinal, Peri Amoge Alom, Anias Murib, Mianus Kiwak, dan Theo Man Kiwak.

Sedangkan dari kelompok bawah (kawasan Tuni Kama Kwamki Lama) antara lain Isak Murib, Ayub Murib, Melky Kogoya, Ulinus Tinal, Anius Alom, Lambinus Murib dan Melkias.

Lang Gia menjelaskan para pihak sepakat untuk menghindari benturan dengan kelompok lain dan jika ada warga yang mencoba memprovokasi warga maka akan ditindak sesuai ketentuan hukum.

Meski demikian, beberapa warga yang hadir dalam pertemuan itu menyatakan pesimis kamtibmas di Kwamki Lama bisa aman. Pasalnya, saat ini masih ada sejumlah korban pertikaian pada Sabtu (20/3) yang dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM). “Kalau korban yang dirawat di RSMM selamat maka kita akan damai. Tapi kalau sampai meninggal maka kami akan buat perhitungan untuk balas,” ancam Isak Murib, salah satu tokoh dari kelompok bawah.

Menurut Lang Gia, saat ini Polsek Mimika Baru dan Polres Mimika terus berpatroli di kawasan yang rawan konflik antar warga suku pegunungan Papua itu. “Setiap hari anggota kami selalu patroli ke Kwamki Lama. Jika ada warga yang berbuat keonaran , maka langsung ditangkap dan diproses,” tegas Lang Gia.

Pada Sabtu (20/3) , dua kelompok warga di Kwamki Lama yang sebelumnya terlibat konflik kembali terlibat aksi saling serang dengan panah, parang dan senjata tajam lainnya. Aksi saling serang itu dipicu oleh ulah salah seorang warga kelompok atas yang dalam keadaan mabuk melepas anak panah ke kerumunan warga kelompok bawah, lalu dibalas oleh warga kelompok bawah.

Dalam peristiwa itu, empat warga terluka setelah tertembus anak panah. Salah seorang diantaranya, Eltinus Wandikbo (16), warga kelompok bawah yang masih duduk di bangku SMP mengalami luka parah pada perut dan kakinya. Korban saat ini masih dirawat secara intensif di RSMM Timika.

Pertikaian antardua kelompok warga yang masih bersaudara itu pecah sejak awal Januari lalu dan telah menewaskan tiga orang warga. Meski Polres Mimika beberapa kali telah merazia dan memusnahkan ratusan busur dan anak panah, ternyata masih banyak warga Kwamki Lama yang menyembunyikan senjata tajam itu di rumah-rumah mereka bahkan di hutan-hutan di sekitar wilayah Kwamki Lama.[bel/ant]

Ditulis oleh Bel/Ant/Papos
Rabu, 24 Maret 2010 00:00