Category Archives: Perempuan Papua

SOLPAP Bosan dengan Pansus Bentukan DPRP

Source: Jum’at, 06 Maret 2015 01:30, BinPa

mama-mama saat demo beberapa waktu laluJAYAPURA – Adanya rencana DPRP akan membentuk sejumlah Pansus, termasuk Pansus pembangunan pasar mama-mama Pedagang asli Papua, mendapat tanggapan pesimis dari Sekretaris Solidaritas Pedagang Asli Papua (SOLPAP) Robert Jitmau. Ia menyatakan, SOLPAP sebagai wadah  penghimpun Pedagang Asli Papua menilai tidak ada itikat baik dari Eksekutif dan Legislatif untuk segera membangun Pasar Permanen bagi Mama-mama Pedagang Asli Papua. Pansus bentukan DPRP pun dinilai tidak serius, bahkan tidak ada hasilnya. “Sampai sekarang apa yang dikerjakan Pansus DPRP,” kata Robert Jitmau mempertanyakan kerja Pansus Pasar Mama Papua.

Robert  yang ditemu Bintang Papua, Kamis (5/3) mengatakan, eksekutif dan legislatif jangan hanya ambil sikap ketika ada aksi dilakukan para Mama-mama pedagang, namun kemudian masalah didiamkan lagi.

Kalau benar DPRP akan kembali membentuk Pansus Pasar Mama-mama, SOLPAP meminta agar dilibatkan dalam Pansus yang akan dibentuk DPRP. 

“Kami tidak mau Pansus Pasar bentukan DPRP itu kerja sembunyi-sembunyi, kami ini sudah bosan dengan pansus-pansus, kalau pansus tidak jelas, tolong DPRP jangan bentuk Pansus omong kosong, kami sudah tidak percaya kerja pansus Pasar Mama-mama”, ujar Robert Jitmau.

Menurut Robert, eksekutif bersama legislatif Papua seharusnya sadar dalam mencermati keseriusan Pemerintah pusat seperti diutarakan Presiden Jokowi dalam kunjungannya 2014 lalu bahwa Pemerintah daerah merupakan perpanjangan tangan Pemerintah Pusat di daerah yang mengeksekusi semua kebijakan pembangunan pro rakyat termasuk pembangunan Pasar Mama-mama Papua yang sudah direspon Presiden bahkan Presiden telah meletakan batu pertama pembangunan Pasar Mama Papua.

Pemerintah daerah seharusnya segera mengeksekusi respon Presiden tersebut, Pemda harusnya melakukan pembebasan lahan Dambri, itu tugas Pemda. Robert menegaskan, Gubernur Papua jangan hanya mengumbar visis misi Papua bangkit mandiri sejahtera, tetapi sarana prasarana untuk mencapai Papua bangkit mandiri sejahtera itu tidak dilaksanakan. Pembangunan Pasar  Permanen bagi Pedagang Asli Papua merupakan wujud visi misi Papua bangkit mandiri sejahtera, itu hal konkrit menterjemahkan Papua bangkit mandiri sejahtera, ujarnya.
Dia menyingung, Gubernur jangan hanya cepat keluarkan uang untuk KNPI,  cepat keluarkan uang untuk PON, untuk Raimuna, sementara pembangunan Pasar yang nyata-nyata sesuai visi misinya ditaruh kebelakang.

Lebih lanjut Robert Jitmau mengulang penyampaian Presiden bahwa, Pemerintah Daerah harus memperhatikan kebutuhan rakyat, kebutuhan rakyat diutamakan. Presiden juga menegaskan ada sanksi pengurangan anggaran   APBN apabila Pemerintah Daerah tidak merespon kebutuhan rakyat. Pemerintah Pusat juga memberikan bantuan  untuk pembangunan Pasar Mama Papua senilai 15 miliar selanjutnya dana pembangunan Pasar Mama Papua itu  ditambah dari anggaran Pemda Provinsi Papua. (ven/don/l03)

SOLPAP Bosan dengan Pansus Bentukan DPRP was originally published on PAPUA MERDEKA! News

Permohonan Pengusutan Kasus Kematian

Jakarta, 5 Mei 2010

Kepada Yth.

Bapak Kapolda DIY

di

Yogyakarta

Nomor : 013/DG/DPR RI/V/2010

Lampiran : 1 (satu berkas)

Perihal : Permohonan Pengusutan Kasus Kematian

Jessica Elisabeth Isir (25 tahun),

Alumna STPMD ‘APMD’Yogyakarta

Dengan hormat!

Merujuk pada perihal surat di atas, saya Diaz Gwijangge, S.Sos, anggota Komisi X DPR RI (A-558) dari Partai Fraksi Demokrat meminta Kepala Kepolisian (Kapolda) Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengusut tuntas dan mengungkap seterang-terangnya kematian Jessica Elisabeth Isir (24), alumna Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta, di mana jasadnya ditemukan pada Sabtu, 1 Mei 2010 pagi di pinggir rel kereta api di Dusun Sorowajan, Kecamatan Banguntapan, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Permintaan ini sebagai tindaklanjut laporan Keluarga Besar Mahasiswa asal Papua di Daerah Istimewa Yogyakarta terkait kematian tak wajar yang dialami Jessica Elisabeth Isir. Kemudian, proses penyelidikan yang ‘tidak normal’, visum et repertum pihak rumah sakit, hingga pemulangan jenazah ke Papua yang dinilai masih menyimpan misteri dan terus menguras akal sehat.

Adapun kronologis kasus kematian ini akan segera kami kirimkan sesegera mungkin melalui surat. Laporan singkat dalam kronologis kasus kematian ini paling kurang menjadi pintu masuk bagi aparat penegak hukum dalam menguak misteri kematian tragis disertai dugaan pemerkosaan ini.

Sebagai anggota DPR RI yang concern dengan masalah hak-hak asasi manusia (HAM), kami menyayangkan peristiwa tragis ini hingga mengakibatkan kematian intelektual yang nota bene generasi penerus pembangunan Papua di masa akan datang.

Oleh karena lokasi kejadiannya berada di wilayah Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, maka kami berharap agar aparat penegak hukum khususnya Kepolisian Resort Bantul dan Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta mengusut secara terang benderang hingga mengungkap motif di balik kematian tragis tersebut.

Hal itu sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap penegakan hak-hak asasi manusia universal dan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai makhluk yang sangat mulia sekaligus menumbuhkan rasa percaya masyarakat terhadap institusi penegak hukum di wilayah hukum Polda DIY.

Untuk jelasnya, kami menyampaikan beberapa hal di bawah ini agar mendapat perhatian serius pihak aparat penegak hukum di wilayah hukum Polda DIY. Termasuk meminta pihak Pemerintah Propinsi DIY sedikit memberikan perhatian dan rasa aman bagi warga masyarakat perantauan, termasuk mahasiswa asal Papua yang saat ini bermukim di Yogyakarta.

Pertama, sebagai anggota DPR RI kami mendesak pihak penegak hukum khususnya aparat Kepolisian Resort Bantul dan Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengusut tuntas dan membuka kepada publik dugaan pemerkosaan disertai pembunuhan atas Jessica Elisabeth Isir, alumna

Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’Yogyakarta, termasuk motif di balik itu.

Upaya pengusutan kasus ini penting karena dugaan kuat kematian gadis itu bukan akibat tabrakan kereta api. “Luka yang menampakkan kejanggalan tersebut di antaranya pada pelipis kiri terlihat memar yang diduga akibat benturan benda tumpul, kepala bagian belakang sobek sedalam tiga centi meter dan panjang 5 cm, luka pada lengan kanan, dan terdapat bekas seperti cekikan tangan di leher,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bantul AKP Danang Kuntadi, Sabtu, 1/5 (TVOne, 1/5).

Kedua, meminta Pemerintah Propinsi DIY, Pemerintah Propinsi Papua, Polda DIY, dan Mabes Polri untuk menggelar dialog bersama guna mencari berbagai akar kekerasan yang selama ini dialami warga perantauan asal Papua di Daerah Istimewa Yogyakarta mengingat eskalasi kekerasan yang menimpa warga Papua di kota itu sudah berada pada tingkat yang mencemaskan.

Salah satu kasus yang hingga kini belum terungkap ke publik, terutama masyarakat maupun mahasiswa asal Papua yang sedang menempuh studi di Yogyakarta yakni insiden pemukulan seorang mahasiswa asal Papua. Mahasiswa ini dipukul hingga babak belur dan meregang nyawa di Rumah Sakit Bhetesda Yogyakarta.

Ketiga, kami meminta Pemerintah Propinsi DIY agar lebih memberikan rasa nyaman bagi para perantau, termasuk para mahasiswa yang tinggal di Yogyakarta mengingat Yogyakarta menjadi tempat tujuan menarik bagi para mahasiswa Papua untuk melanjutkan studi guna menjadi calon generasi bagi Papua pada masa-masa akan datang.

Demikian permohonan kami. Atas perhatian dan kerja samanya dihaturkan terima kasih.

Hormat

Diaz Gwijangge

Anggota DPR RI (A-558) Fraksi Partai Demokrat

Tembusan: dikirim dengan hormat kepada

1. Bapak Kapolri di Jakarta

2. Bapak Ketua DPR RI di Jakarta

3. Ketua Komisi III DPR RI di Jakarta

4. Ketua Komnas HAM di Jakarta

5. Kaukus Parlemen DPR/DPD RI di Jakarta

6. Gubernur DIY di Yogyakarta

7. Gubernur Papua di Jayapura

8. DPRD DIY di Yogyakarta

9. DPRP di Jayapura

10. Media Cetak dan Elektronik