Tag Archives: perang suku

Papua Merdeka TIDAK untuk Mewujudkan Masyakat Papua yang Adil dan Makmur!

Pada bulan 10 Juni 1999, Utusan Khusus Gen. TPN/OPM Mathias Wenda ke Uni Eropa pernah ditanya oleh seorang aktivis lingkungan di Negeri Belanda, saat melakukan diskusi publik tentang perjuangan kemerdekaan West Papua

“kenapa kalian mau merdeka? saya rasa kalian lebih bagus dengan Indonesia, sebab kalau kalian merdeka, nanti banyak perang suku, dan nanti bagaimana kalian bangun kehidupan yang sejahtera sebagaisebuah negara merdeka?”

Bandingkan pertanyaan/ pernyataan ini dengan apa yang dikatakan oleh salah satu Anggota Cyber Army bentukan Menteri kolonial Indonesia Luhut Binsar Panjaitan,

Papua tra akn prnh merdeka kawan. tra usah di provokasi jg kalian su baku bunuh. Ko sering lihat to perang antar suku. Apa jadinya klo tra ada aparat keamanan. Klian mati semua baku bunuh. NKRI telah mengajarkan peradaban pda kita semua. Kalian merasa terjajah dlm hal apa ? Ekonomi ? Budaya ?atau apa kawan ? We pkir lah pake otak, ini jaman modern. Tra ada di di penjuru bumi ini yg tra merasakan hal semacam itu. Semua orang merasakan kawan. Ko pkir stelah ko merdeka, trus ko bs kaya bs sejahtera ? Ngimpi. Yg terjadi mlh sebaliknya. Dgn taraf pndidikan kalian sj tra bs bkin kalian sejahtera. Yg ada ko gantian di jajah australia dgn USA. ko lihat timor leste skarang, yg katanya lautnya kaya minyak, minyaknya su dirampas australia tanpa ada pembagian yg menguntungkan bgi timor leste. australia dong blg itu adalah harga krn tlh bantu timor leste merdeka. Dan skrang yg hrus kita lakukan adalah memikirkan caranya bgmna agar masyarakat papua itu bs sejahtera. Krna merdeka adalah hal yg mustahil [http://papuanews.id/2016/06/14/penistaan-KNPB-terhadap-masyarakat-dan-mahasiswa-papua/]

Kapten TPN/OPM Amunggut Tabi sebagai prajurit yang masih dalam perjalanan pertama mengenal pentas politik global, yang baru mengenal kondisi Negeri Belanda langsung menjawab pernyataan pemuda Belanda tadi,

Saya ucapkan terimakasih kepada Anda karena mengajukan pertanyaan yang sangat penting, maha penting. Pertanyaan Anda sangat berhubungan dengan realitas yang ada di Tanah Papua, yaitu realitas yang Anda tangkap sebagai orang asing. Realitas itu adalah bahwa orang Papua rentan dengan perasng suku, dan karena itu lebih bagus dikendalikan oleh orang Indonesia, dan kedua bahwa orang Papua sendiri masih sangat primitif dan oleh karena itu lebih baik dibangun oleh Indonesia.

Kedua pandangan ini benar, tetapi ini kebenaran “asumsi” dan “reka-rekaan”. Kebenaran yang sebenar-benarnya ialah bahwa orang Papua semuanya sudah beragama, beradab, demokratis dan bermartabat. Perang suku yang terjadi seperti disiarkan di Tanah Papua adalah perang suku buatan NKRI, ciptaan mereka sendiri.

Sebagian insiden yang mereka katakan “perang suku” adalah sebenarnya perang melawan kolonialisme Indonesia. Kami tidak punya media, jadi mereka merekam dan menyiarkan perang kemerdekaan dan menyebutnya perangsuku.

Kita perlu sadari bahwa tahun 1999 itu tidak ada Handphone, tidak ada Internet seperti sekarang, tidak ada keterbukaan informasi sama sekali. Pada waktu itu Mathias Wenda adalah Panglima Tertinggi TPN/OPM, dan Amunggut Tabi hanyalah seorang Komandan Pleton yang ditugaskan ke Eropa untuk merintis pusat pergerakan kemerdekaan West Papua. Hasilnya seperti yang Anda lihat hari. Sudah hampir 20 tahun lalu.

Waktu itu Otsus Papua belum diberlakukan.

Sekarang kita simak pernyataan seorang anggota pasukan Cyber Army kolonial NKRI di situs propaganda mereka papuanws.id seperti dikutip di atas. Dia menyampaikan DUA HAL YANG SAMA, dua isu yang sama, yaitu pertama menyangkut (1) perang suku; dan (2) keterbelakangan orang Papua untuk membangun dirinya dari kemiskinan, kemelaratan, dll.

Percakapan agen NKRI ini mengemukakan dua hal yang sama, yaitu menyangkut bahaya perang suku dan bahaya kemelataran setelah Papua Merdeka.

Menanggapi kedua keprihatinan ini, Amunggut Tabi dengan santun dan otak dingin mengatakan:

Terimakasih banyak, karena apa yang dikatakan di sini merupakan realitas yang “ditangkap” oleh masyarakat internasional. Tanpa saya tahu ini, saya akan keliru menyampaian pesan dari tua-tua adat saya.

Untuk menjelaskan ini, saya perlu tegaskan bahwa perang-suku di Tanah Papua telah berakhir sejak misionaris datang dan memberitakan Injil keselamatan yang mendamaikan antara manusia dengan Tuhan, dan antara manusia dengan manusia. Sejak Raja Damai itu bertahta di Tanah Papua, tempat itu menjadi Tanah Damai. Itu realitas terkini. Gambaran yang disampaikan tadi ialah realitas tahun 1960-an, yang waktu itu dikenal Belanda sebelum meninggalkan Tanah Papua karena diusir oleh Amerika Serikat.

Per hari ini, di Tanah Papua itu yang ada ialah kedamaian, damai sejahtera di dalam hati, di dalam jiwa, di dalam komunitas, di dalam kebersamaan.

Diantara itu, hanya ada satu unsur yang tidak mau tinggal damai dengan orang Papua, yaitu ABRI, tentara dan polisi dilatih untuk berperang dan membunuh, jadi kalau ada kedamaian, mereka selalu berjuang keras menciptakan kekerasan dan peperangan, mereka selalu menikmati kematian orang Papua.

Saya tidak tahu sejak Indonesia masuk ke Tanah Papua, berapa orang Papua mati karena perang suku. Tetapi saya punya data, ini ada paper, yang tulis orang Belanda sendiri, tentang pembunuhan-pembunuhan orang Papua oleh Indonesia. Jadi, yang bikin kacau di Tanah Firdaus (Paradise Land) ialah NKRI, bukan antar suku, bukan antar orang Papua.

Kemudian Amunggut Tabi melanjutkan tentang “Adil dan Makmur” dan anggapan bahwa orang Papua tidak mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan setelah merdeka.

Perlu diperhatikan bahwa percakapan di Belanda ini terjadi hanya 2 bulan sebelum referendum Timor Leste (Agustus 1999). Oleh karena itu komentar orang Belanda tadi tidak mengambil contoh Timor Leste yangsudah merdeka, sedangkan komentar Cyber Army Indonesia pada Juni 15, 2016 menyebutkan Timor Leste sebagai contoh bahwa kemerdekaan orang Melanesia justru tidak akan memakmurkan orang Papua.

Amunggut Tabi menjawab waktu itu, dan menjawab hari ini kepada anggota Cyber Army, bahwa

tujuan akhir, dan cita-cita kemerdekaan West Papua bukan kemakmuran, bukan keadilan, bukan kekayaan, bukan kesejahteraan. Ini hanya proses menuju tujuan akhir, yaitu kehidupan yang harmonis di antara semua makhluk ciptaan Tuhan.

Keharmonisan akan hadir sendiri dengan ada keadilan, pemerataan, kebersamaan, kearifan, maka keharmonisan hadir secara otomatis.

Orang Papua tidak mau jadi kaya, tidak mengejar kekayaan. Orang Papua tidak perlu dengan emas dan perak di Tembagapura. Kalau mau, saya akan minta tua-tua Adat Papua serahkan kepada Belanda saja kalau mau, atau kepada Indonesia kalau mau, atau kepada Amerika Serikat.

Kami tidak butuh, tidak mengejar, dan tidak berdoa untuk menjadi kaya. Yang kami mau hanya satu, satu saja, yaitu NKRI keluar dari Tanah leluhur bangsa Papua.

Saya sanggup menjadi jaminan, sampai riwayat bangsa Papua berakhir, bahwa saya sanggup menandatangani perjanjian penyerahan emas dan perak dari Tanah Papua, tetapi jangan gadaikan bangsa saya ke dalam penjajahan NKRI hanya gara-gara emas dan perak itu.

Dengan mengakhiri jawaban ini, di hadapan semua orang yang mendengarkan dia langsung berdoa dengan menundukkan kepala, kepada Tuhan

Yang Tuhan Bapa di Surga, suruhlah orang Belanda, orang Indonesia, orang Amerika Serikat, untuk datang ambil emas, perak, tembaga, nikel, uranium, gas, apa saja yang ada di dalam perut Bumi Cenderawasih. Saya serahkan kepada Tuhan, supaya suruh mereka datang ambil saja. Tetapi aku mohon di dalam Nama Yesus, Raja Damai semesta alam, Tokoh Revolusioner Sentral  semesta alam dan sepanjang masa, Yesus Kristus, supaya kedamaian, kenyamanan, martabat, jatidiri bangsa Papua jangan turut dicuri dan diambil. Kami hanya mau hidup damai dan aman di Tanah leluhur kami, yang telah Kau tempatkan buat kami. Biarlah sekalian bangsa hidup di tanah leluhur mereka, dan saling menghargai, salng membantu, sebagai sesama bangsa, sesama umat-Mu. Janganlah Indonesia mengulangi kesalahan Belanda menjajah bangsa lain demi kepentingan perut: emas dan perak, mengorbankan kedamaian yang telah pernah kami miliki, dan ingin meraihnya kembali di dalam Negara West Papua. Dalam Nama Yesus, amin!

Begitu “Amin!” ternyata sang prajurit TPN/OPM telah kebanjiran air mata, tidak dapat ditahan lagi.

Setelah “Amin”, Tabi kembali tegaskan

Jadi, Papua tidak minta roti, kami minta Raja Damai bertahta di atas Tanah Firdaus itu, karena di situ tempatnya. Di sini, di Eropa, Yesus sudah ditolak mentah-mentah, banyak pelacuran, banyak narkoba, banyak kekacauan. Kemerdekaan West Papua punya warna yang berbeda, jangan samakan kami dengan negara Indonesia, jangan samakan cita-cita duniawi Indonesia adil dan makmur dengan cia-cita ilahi “keharmonisan” untuk Tanah Papua.

Papua Merdeka TIDAK untuk Mewujudkan Masyakat Papua yang Adil dan Makmur! was originally published on PAPUA MERDEKA! News

Bentrok Antar Warga, Timika Mencekam – Sejumlah Warga Luka-luka, Dua Rumah Dibakar

TIMIKA – Kasus pengeroyokan yang menewaskan Lambert Rumte (29), sekitar pukul 18.45 WIT Minggu (23/5) malam lalu di salah satu rumah di jalan Freeport Lama, memicu keributan di Kota Timika, Senin (24/5) kemarin, sehingga suasana di Kota Timika, Papua ini menjadi mencekam.

Selain mengakibatkan beberapa warga terluka dan harus dilarikan ke rumah sakit, keributan antar warga itu juga berbuntut pada pembakaran 2 unit rumah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Timika (Cenderawasih Pos Group) menyebutkan, pada pukul 10.00 WIT, beberapa korban penganiayaan dirawat di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Mimika serta Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM).

Korban yang dirawat di RSUD atas nama Kima Wenda (30) yang jari manis sebelah kirinya putus. Beberapa luka lainnya, yakni di lengan kiri dan kanan serta siku, akibat sabetan parang oleh oknum warga di depan Pasar Sentral, kawasan Irigasi. Kemudian korban yang dirawat di RSMM atas nama Marthen Pigome.

Juga dikabarkan terdapat korban lain di salah satu depan hotel di Jalan Ahmad Yani. Berdasarkan informasi yang dapat dipercaya, seorang warga juga terluka.

Sekitar pukul 11.00 WIT, terjadi aksi pertikaian antar dua kelompok warga di depan SMK Petra. Petugas dari Dalmas Polres Mimika serta satu unit mobil Barakuda dari Detasemen B Brimobda Polda Papua datang mengamankan situasi.
Petugas keamanan kemarin melakukan patroli dan mengunjungi tempat-tempat berkumpulnya massa. Beberapa toko ditutup pemiliknya. Warga maupun pengendara sepeda motor dan kendaraan lainnya nampak was-was.

Selama kurang lebih satu jam, Jalan Budi Utomo mulai dari ujung Jalan Kartini hingga ujung Jalan Pattimura, tidak dapat dilalui kendaraan, karena massa berkonsentrasi di wilayah itu.

Akibatnya, beberapa pengendara kendaraan kesulitan mencari akses jalan. Satu-satunya jalan yang dapat dilalui sekitar pukul 11.00 WIT hingga pukul 12.00 WIT yaitu melalui Pasar Damai berbelok ke arah Jalan Ahmad Yani.

Di pinggir ruas-ruas jalan tersebut, warga nampak di tepi-tepi jalan menyaksikan situasi yang berkembang. Warga keluar dari rumah masing-masing untuk melihat apa yang terjadi, sebab mobil petugas keamanan tak henti-hentinya berpatroli.

Petugas mobile mengunjungi tempat-tempat dimana dilaporkan terdapat massa membawa senjata berkumpul, tidak terkecuali di pertigaan Jalan Kartini – Yos Sudarso tepatnya di samping Markas Koramil Kota Timika.

Suasana sempat mereda beberapa saat. Namun Senin sore muncul kabar terjadi aksi anarkis, dimana ada oknum warga dari salah satu kelompok, membakar dua unit rumah milik warga yang terletak di ujung Jalan Busiri – Budi Utomo. Salah satu rumah yang dibakar itu dihuni oleh Paulina P, seorang janda.

Satu unit rumah lainnya yang dibakar, yakni rumah yang dihuni oleh Marthina G, Rebecca N, Akulince N serta Otopia Y beserta tiga orang anak.

Kapolsek Mimika Baru AKP Lang Gia langsung mengunjungi lokasi kebakaran rumah tersebut sekitar pukul 16.00 WIT. Di tempat tersebut nampak dua rumah yang terbuat dari kayu papan ludes dilalap si jago merah.

Paulina P kepada petugas mengatakan rumahnya saat itu diserang oleh beberapa oknum warga. Kapolsek kemudian membawa keluarga yang rumahnya terbakar itu untuk diungsikan ke rumah salah satu warga di Jalan Serui Mekar sekitar pukul 17.00 WIT.

Kapolres Mimika, AKBP. Moch Sagi, SH yang ditemui Radar Timika sekitar pukul 12.00 WIT Senin (24/5) di ujung Jalan Pattimura – Budi Utomo, mengatakan, awalnya pada Minggu (23/5) lalu, diduga terjadi hubungan asmara antara dua orang yang tidak terikat perkawinan. Diduga beberapa warga dari pihak wanita yang tidak terima hubungan itu, kemudian menganiaya sang pria hingga akhirnya meninggal dunia.
Kabar kejadian itu, kata Kapolres, kemudian menyebar kepada warga lainnya dari kelompok korban. Akibatnya Senin (24/5) kemarin terjadi keributan.

Menyikapi penganiayaan yang menyebabkan Lambert Rumte meninggal pada Minggu (23/5) malam, Kapolres mengatakan sebenarnya pihaknya telah melakukan antisipasi. Kabag Ops Polres Mimika dan personel di lapangan telah mendekati tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh lainnya hingga berhasil meredam emosi warga dari pihak korban.

“Tapi karena Timika ini cukup luas, informasi tersebut kemudian menyebar kemana-kemana. Ada kelompok-kelompok tertentu yang “mengenai” salah satu (warga) dari kelompok lainnya. Karena kelompok tersebut terkena, muncul lagi emosi lain, karena masyarakat tersebut tidak tahu masalah,” papar Kapolres.

Ketegangan kemudian terjadi. Hal itu diperparah dengan adanya isu seorang warga diculik oleh kelompok tertentu. “Tapi kita buktikan ke mereka hal itu tidak benar. Seorang warga yang diduga diculik, kita serahkan ke mereka. Alhamdulillah, dalam kondisi sehat, sehingga mereka mundur pelan-pelan (isu warga Kwamki Lama yang akan menyerang Kota Timika, Red)),” papar Kapolres.

Kapolres membenarkan bahwa Senin kemarin ada beberapa korban yang mengalami luka-luka akibat terkena serangan benda tajam. Para korban sudah dirawat di dua rumah sakit yang ada di Timika.
Sedangkan terhadap pelaku pengeroyokan yang menyebabkan Lambert Rumte meninggal dunia, kata Kapolres, pihaknya sedang melakukan penyelidikan. “Kita melakukan penyelidikan dan penyidikan. Kalau terbukti bersalah kita proses,” tandasnya.

Kapolres mengatakan hingga pukul 12.00 WIT kemarin, sebenarnya situasi di Timika dan sekitarnya sudah aman terkendali. Kapolres menghimbau seluruh lapisan masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan isu yang beredar di masyarakat.

Suasana di beberapa titik di Timika kemarin terasa mencekam. Terlihat di sejumlah sudut kota nampak oknum warga berjaga-jaga dengan menggunakan berbagai jenis senjata tajam.

Beberapa lokasi dimana warga berjaga-jaga kemarin, seperti di perempatan Pasar Damai, depan SMK Petra, ujung Jalan Pattimura–Budi Utomo, depan rumah duka Lambert Rumte di Jalan Hassanuddin, pertigaan Jalan Kartini–Yos Sudarso dan beberapa titik lainnya, seperti di batas Kota Timika – Kampung Nawaripi dan juga di Tugu Perdamaian, Timika Indah.

Informasi yang dihimpun Radar Timika dari beberapa saksi menyebutkan, salah satu kelompok warga dari pihak korban, berjaga-jaga sebab muncul isu jika tempat mereka akan diserang oleh kelompok warga lainnya.

Ruas Jalan Hasanuddin, di depan rumah duka, sejak Senin pagi ditutup sebagian dengan tanda bendera hitam. Nampak sejumlah pemuda juga beberapa warga lain berjaga-jaga.(ale/jpnn)
(scorpions)