Tag Archives: Pidato Politik

Gen. WPRA Mathias Wenda, Selamat Terpilih Kembali menjadi Perdana Menteri Papua Timur

General WPRA Mathias Wenda dari Markas Pusat Pertahanan (MPP) West Papua Revolutionary Army (WPRA)  menyampaikan Surat Selamat atas kemenangan menjadi Perdana Menteri terpilih Hon. Peter O’Neill MP pada tanggal 3 Agustus 2017 dan disumpah sebagai PM Papua New Guinea pada tanggal yang sama.

Dalam surat dimaksud disebutkan kepercayaan rakyat Papua di bagian timur pulau New Guinea menunjukkan ada restu langsung dari Sang Klalik Langit dan Bumi pulau kita, karena apa yang telah dimulai yang terhormat Perdana Menteri Papua New Guinea selama lima tahun lampau telah membawa banyak manfaat bagi bangsa Papua di pulau New Guinea di bagian Timur dan Barat pulau ini.

Sebagai orang tua, dan sebagai pemimpin revolusi bangsa Papua di bagian barat Pulau New Guinea, Gen. Wenda menyebutkan sejumlah hal yang telah dilakukan oleh Peter O’Neill selama ini, yaitu pertama-tama dan terutama, mengakui secara terbuka di depan para kum ibu dari gereja-gereja di Papua New Guinea pada saat mereka melakukan demonstrasi di hadapapan yang terhormat PM Papua New Guinea, bahwa “ya benar ada masalah pelanggaran HAM di West Papua, dan hal itu perlu di-address“.

Pengakuan tentang “ada masalah di West Papua, masalah Hak Asasi Manusia di Tanah Papua, pengakuan seorang pemimpin politik, pemimpin negara di pulau New Guinea atas masalah yang telah lama, selama para perdana menteri sebelumnya selalu disembunyikan, dianggap sebagai aib, diperlakukan sebagai berita pembawa kutuk atau malapetaka, adalah sebuah tindakan bersejarah, bermartabat dan akan dikenang semua anak-cucu bangsa Papua di pulau New Guinea.

Pengakuan atas situasi real di atas tanah leluhur bangsa Papua menjadi pintu masuk, dan sekaligus pintu keluar bagi persoalan HAM dan perjuangan kemerdekaan bangas Papua di bagaian Barat pulau New Guinea yang telah melewati setengah abad ini. Menyusul pengakuan yang terhormat Peter O’Neill telah terjadi peristiwa-peristiwa yang kami bangsa Papu adi bagian barat menyebutnya sebagai “mujizat-mujizat” susulan, yang kami sebut sebagai perkembangan lanjutan sampai kepada Komunike MSG (Melanesian Spearhead Group) dan Resolusi PIF (Pacific Islands Forum), disusul dengan pembentukan ULMWP (United Liberation Movement for West Papua) dan PICWP (Pacific Islands Coalition for West Papua).

Hal kedua yang saya, Gen. Mathias Wenda sebagai orang tua catat adalah langkah yang terhormat O’Neill untuk menerapkan “politics of engagement”, bukan “politics of blame” atau “politics of pointing fingers”. “Politics of engagements” adalah pendekatan politik mutakhir, yang diterapkan oleh banyak pemimpin modern,  yang telah banyak membawa manfaat stabilitas kawasan dan kedamaian hidup.

Kami sebagai orang tua, yang memegang komando perjuangan kemerdekaan West Papua telah menekan dan memerintahkan kepada seluruh pejuang Papua Merdeka, atau perjuangan saya politik Papua Merdeka supaya mengikuti dan menindak-lanjuti pendekatan yang telah dengan jelas-jelas ditunjukkan oleh PM Peter O’Neill selama ini. Kami juga berdoa agar anak-anak pejuang Papua Merdeka akan mengikuti langkah PM O’Neill di masa lima tahun mendatang.

Tindakan gertak sambal, ancam-mengancam, emosional dan saling menuduh adalah cara-cara berkomunikasi nenek-moyang kita, yang kita juga warisi saat ini. Tetapi dalma konteks peta politik global dan kawasan, kita perlu dengan arif belajar dari peraban modern dalam cara kita berkomunikasi dan melakukan dialgoue. Langkah O’Neil’ akan terus kami dukung, sampai Papua Merdeka, berdaulat di luar NKRI.

Yang ketiga, selain mengikuti trend diplomasi dan politik modern, PM O’Neill selama ini mengedepankan kearifan lolak milik bangsa Papua, menggunakan pendekatan komunikasi dan komunikasi, yang dikenal di budaya Melayu sebagai Musyawarah untuk Mufakat. Saya harus akui, slogan “musyawarah untu mufakat” hanya ada dalam istilah dan kata-kata di Indonesia, akan tetapi hal ini nyata dan dipraktekkan oleh yang terhormat Peter O’Neill sendiri selama ini dan disaksikan oleh sekalian manusia di dunia.

Dalam surat ini, Gen. Wenda juga menyampaikan terimakasih kepada Peter O’Neill yang telah memberikan hak kepada bangsanya sendiri dari bagian barat pulaunya sendiri, untuk menjadi Warga Negarea Papua New Guinea. Sudah lama kita diberitahu oleh para penjajah bahwa orang West Papua itu pengungsi, orang asing, pendatang. Padahal kita semua tahu, bahwa semua orang pulau New Guinea ialah orang tuan-tanah di pulau ini. Padahal kita semua tahu bahwa para pendatang adalah orang Australia, orang Eropa, orang Melayu Indonesia dan Malysia, mereka itu pendatang, mereka itu mengungsi ke pulau kami untuk tebang-tebang kayu, gali-gali emas dan perak, bawa pergi semua kekayaan alam kami, menduduki tanah kami, menghabisi jumlah bangsa Papua, dan mengakhiri ras Melanesia.

Perjuangan Papua Merdeka saat ini dilakukan lewat ULMWP sebagai wadah politik. Walaupun badan ini masih berstatus Non-Governmental Organisation, kami terus mendorong agar status organisasi ini kami tingkatkan menjadi Provinsional Government of West Papua, sehingga dalam diskusi dan diplomasi regional, ULMWP bisa terlibat secara bertanggungjawab dan bermartabat, dan dapat mengikuti langkah-langkah PNG dalam melakukan dialogue dengan NKRI.

Kami laporkan dalam kesempatan ini tentang Peta Politik PAN Indonesia, atau disebut juga The Great Indonesia, yaitu sebuah wilayah mencakup Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, West Papua, Papua New Guinea dan Solomon Islands. Inilah yang mereka sebut sebagia “The Great Indonesia’ sebagaimana selalu dinyanyikan dalam National Anthem, “Great Indonesia”. Politik NKRi dan para politisi mereka tahu, Indonesia belum “Great” kalau seluruh pulau New Guinea belum dikuasai secara politik, ekonomi dan hukum.

Mereka selalu mengatakan seperti ini,

“If I can conquer occupy, , dominate, Papuans in West Papua and extract and take benefits of natural resources there, then what is the reason for anyone to suggest to me that I cannot do just the same in the whole Island?”

Bukan itu saja, mereka juga sering katakan kepada pemimpin di Australia, Amerika dan Eropa dengan menunjuk jari kepada teman kami di Papua New Guinea seperti ini,

“If PNG itself is failing in its national development, and becoming one of the poorest countries in the world, then what is the point giving the other half of the same island an independent status?. They are better off controlled by us, Australia shouldn’nt have gave them independent status in 1975. They are cannibals, they think and talk about wars and tribal battles better than thinking about running a modern nation-state”

Tetapi semua pihak tahu, yang terhormat Pter O’Neill tahu, kami di West Papua semua tahu, perjuangan ini bukan kami lakukan karena mereka Melayu dan kami Melanesia. Sama sekali tidak! Perjuangan ini kami lakukan, pertama-tama karena

“there is a sin committed by the Indonesians in running the so-called Act of Free Choice”. This is not just an error, it is a sin before God, Our Creator and Protector. They have lied to many parties involved in the act that all Papuans in West Papua chose to be happy with Indonesia. Which is a total lie.

Oleh karena itu, pertanyaan kita generasi ini ialah, “Apakah kita harus membiarkan sebuah perbuatan dosa terhadap sebuah bangsa dan sebuah ras ini menjadi sesuatu yang sudah berlalu dan dibarkan supaya dilupakan begitu saja? Bagaimana dengan pengalaman teman-teman Aborigine yang telah diduduki selama berabad-abad lamanya? Pernahkan mereka lupakan? Bagaimana pengalaman teman-teman kami di Selandia Baru dan Amerika Utara?

Bukan hanya dosa lama, setiap hari kita bangsa Papua terus berkurang jumlah, di satu sisi Indonesia setiap hari mengkampanyekan Keluarga Berencana untuk membatasi jumlah orang Papua di tanah leluhur kita, di sisi lain mereka bunuh orang Papua secara terbuka dan yang terhormat Peter O’Neill bisa dapat informasi pembunuhan orang Papua hampir setiap hari. Itu berita-berita pembunuhan terbuka, dengan peluru tajam, dilakukan oleh aparat tentara dan polisi NKRi, disaksikan oleh banyak orang, dirawat dan dimandikan mayat-mayat mereka di rumah sakit dan di lapangan terbuka.

Yang terhormat PM Pter O’Neill juga telah baca banyak laporan hasil studi ilmiah yang menyebutkan penduduk Melanesia di bagian barat pulau New Guinea sudah akan punah dari tanah laluhurnya pada tahun 2030.

Apakah ini belum berarti bahwa bangsa Papua di pulau New Guinea timur juga akan terkena imbasnya? Saya tahu, bahwa PM Peter O’Neill adalah diplomat ulung Melanesia saat ini, dan pasti akan mengambil langkah-langkah.

Ada pepatah Melayu mengatakan begini, “Berani karena benar, takut karena salah”, artinya walaupun Indonesia mengancam bunuh kita, walaupun Indonesia meneror, walaupun Indonesia menekan, walau bagaimanapun, kalau kita benar, marilah kita berani.

Selama lebih dari 40 tahun ini, pemimpin di pulau New Guinea secara keseluruhan hidup dalam ketakutan. Gerakan gertak sambal, tindakan teror telah membuat bangsa Papua dihantui oleh rasa takut kalau-kalau Indonesia bisa bunuh kita. Yang terhormat Peter O’Neill sudah jelas-jelas menunjukkan sikap ‘tidak takut’, karena benar.

Kami dari Tentara Revolusi West Papua (West Papua Revolutionary Army) selalu berdoa dari hutan rimba New Guinea agar kiranya Tuhan melimpahkan akal budi, dan berkat, kekuatan dan kesehatan, untuk selalu menggali kearifan peninggalan nenek-moyang kita, dengan juga merangkul perkembangan yang terjadi belakangan ini dalam menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi, dalam hidup kita ini.

Apa yang akan kita jawab kepada anak-cucu kita nanti, kalau mereka bertanya kepada kita setelah kita mati, “Bapa/ Mama, apa yang telah kau lakukan untuk bangsamu, tanah leluhurnya, selama memagang kekuasaan yang dapat menentukan nasib bangsa dan tanah laluhur kami”, Apakah kami akan jawab, “Bapa/ Mama takut sama NKRI, Indonesia jahat dan kejam, bapa/ maka takut, jadi tidak bisa buat apa-apa?”

Sejarah hidup ini tidak hanya berakhir setelah kita dikuburkan, kita akan melanjutkannya di alam baka. Pekerjaan yang telah kita mulai 5 tahun terakhir akna terus kita lanjutkan sampai West Papua benar-benar merdeka, berdaulat di luar NKRI.

Saya sebagai Panglima Tertinggi Komando Revolusi WPRA, yang selama hampir 50 tahun bergerilya di hutan rimba New Guinea mengirimkan doa restu kepada mu Yang Mulia Perdana Menteri Papua New Guinea, Peter O’Neill dengan doa dan air mata, untuk terus berjuang untuk bangsamu dan tanah leluhurmu. Lupakan dan buang jauh-jauh batas-batas wilayah negara buatan para penjajah. Lihat dan baca kembali sejarah kehadiran dan keberadaan bangsa kami di pulau kami. Dan mereka akan datang dengan “Full Force” untuk mendorong dan menopangmu saat berarya dan melindungi-mu saat dibutuhkan. Ini hal yang nyata, pengalaman sehari-hari bagi saya, dan itu pasti juga menjadi pengalaman kita semua yang menentang kekuatan pendukung dan pemupuk terorisme terbesar sedunia, INDO-NESIA.

Saya mau sampaikan sebuah realitas yang mutlak, bukan realias “bayangan” atau realitas “cita-cita”, yaitu bahwa “INDONESIA” itu sebagai sebuah bangsa, sebagai sebuah wilayah tanah leluhur dan sebagai sebuah realias sosial-politik TIDAK PERNAH ADA di dunia saat ini. Yang ada ialah sebuah “imagined society”. Sebaliknya, Melanesia dan New Guinea ialah sebuah realitas mutlak, sebuah kodrat, sebuah dunia citaan Allah Bapa di Surga. Apakah dengan mendukung Indonesia ciptaan para penjajah kita melanggar dunia ciptaan Tuhan. Apakah dengan menyebut orang Papua di West Papua sebagai orang Indonesia kita secara sadar dan terbuka melanggar hukum penciptaan Allah?

Inonesia is not a final entity, it is just an “imagined community” as already stated many years ago many by Bennedict Anderson. We do not want to be scared of the imagined entity, a fictional nation-sate, a dream nation-state. Yes Indonesia is politically mapped in world political map, but Indonesia does not exist in God’s created map

Demikian dan salam hormat, demi nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, Bapa Khalik Langit dan Bumi, nenek moyang, tanah leluhur, seluruh orang Melanesia yang pernah lahir dan yang akan lebir, yang telah meninggal dan yang masih hidup, atas nama segenap komunitas makhluk penghuni Pulau New Guinea,

Disampaikan di: Markas Pusat Pertahana
Pada Tanggal: 4 Agustus 2017

 

Mathias Wenda, Gen. WPRA
NBP: A.001076

 

 

 

Gen. WPRA Mathias Wenda, Selamat Terpilih Kembali menjadi Perdana Menteri Papua Timur was originally published on PAPUAPost.com

Teks Lengkap Pidato Inaugurasi Donald Trump

Presiden AS, Donald Trump (Foto: USA Today)

Presiden AS, Donald Trump (Foto: USA Today)

WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM – Presiden ke-45 Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pidato sesaat setelah dilantik dengan penekanan pada kembalinya kekuasaan kepada rakyat dan kepentingan AS nomor satu.

Dengan gayanya yang khas, dengan tangan yang tidak pernah diam saat ia berbicara, Donald Trump menegaskan bahwa hari-hari mendatang adalah hari-hari yang berbeda bagi rakyat AS.

“Upacara hari ini, bagaimanapun, memiliki makna sangat khusus. Karena hari ini kita tidak hanya mentransfer kekuasaan dari satu pemerintahan kepada yang lain, atau dari satu pihak kepada pihak lain – tetapi kami sedang memindahkan kekuasaan dari Washington, DC dan memberikan kembali kepada Anda, Rakyat Amerika,” kata dia, selepas tengah hari, Jumat (20/1) waktu Washington DC.

“Sudah terlalu lama, sebuah kelompok kecil di ibukota negara kita  menuai manfaat dari pemerintahan sedangkan rakyat yang menanggung biayanya. Washington berkembang – tetapi rakyat tidak mendapat bagian kekayaan,” kata dia.

“Bahwa semua perubahan – mulai di sini, dan sekarang, karena saat ini adalah milik Anda,” tutur dia.

“Apa yang benar-benar penting adalah bukan partai yang mengontrol pemerintah, tapi apakah pemerintah kita dikendalikan oleh rakyat,” ia menambahkan.

“Pria dan perempuan yang selama ini terlupakan, tidak akan dilupakan lagi, kata dia pada bagian lain pidatonya.

“Mulai hari ini, visi baru akan mengatur tanah air kita.”

“Mulai saat ini, Amerika menjadi yang pertama.”

Berikut ini teks pidato lengkap Donald Trump, yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris. (Teks asli dalam bahasa Inggris disajikan di bawah terjemahan ini).

Hakim Agung Roberts, Presiden Carter, Presiden Clinton, Presiden Bush, Presiden Obama, rakyat Amerika, dan rakyat dunia: terima kasih.

Kita, rakyat Amerika, kini bergabung dalam upaya nasional yang besar untuk membangun kembali negara kita dan untuk mengembalikan janjinya untuk semua rakyat kita.

Bersama-sama, kita akan menentukan jalannya Amerika dan dunia untuk tahun-tahun mendatang.

Kita akan menghadapi tantangan. Kita akan menghadapi kesulitan. Tapi kita akan menyelesaikan pekerjaan.

Setiap empat tahun, kita berkumpul untuk proses ini melaksanakan transfer kekuasaan yang tertib dan damai, dan kita berterima kasih kepada Presiden Obama dan Ibu Negara Michelle Obama untuk bantuan murah hati mereka sepanjang transisi ini. Mereka hebat.

Upacara hari ini, bagaimanapun, memiliki makna sangat khusus. Karena hari ini kita tidak hanya mentransfer kekuasaan dari satu pemerintahan ke yang lain, atau dari satu pihak kepada pihak lain – tetapi kita sedang memindahkan kekuasaan dari Washington, DC dan memberikan kembali kepada Anda, Rakyat Amerika.

Sudah terlalu lama, sebuah kelompok kecil di Ibu Kota negara kita menuai manfaat dari pemerintahan sedangkan rakyat yang menanggung biayanya.

Washington berkembang – tetapi rakyat tidak bertambah kekayaannya.

Politisi makmur – tetapi lapangan kerja lenyap, dan pabrik-pabrik ditutup.

Kalangan mapan melindungi dirinya sendiri, tetapi bukan melindungi warga negara.

kemenangan mereka bukan kemenangan Anda, kejayaan mereka bukan kejayaan Anda; dan sementara mereka merayakannya di Ibu Kora, hanya sedikit perayaan bagi mereka yang berjuang untuk keluarganya di seluruh tanah air kita.

Semua berubah – mulai di sini, dan sekarang, karena momen ini adalah momen Anda: itu milik Anda.

Ini milik semua orang yang berkumpul di sini hari ini dan semua orang yang menonton di seluruh Amerika.

Ini adalah hari Anda. Ini adalah perayaan Anda.

Dan ini, Amerika Serikat, adalah negara Anda.

Apa yang benar-benar penting adalah bukan partai yang mengontrol pemerintah kita, tapi apakah pemerintah kita dikendalikan oleh rakyat.

20 Januari 2017, akan dikenang sebagai hari dimana rakyat menjadi  penguasa bangsa ini kembali.

Laki-laki dan wanita yang terlupakan oleh negara kita tidak akan dilupakan lagi.

Semua orang mendengarkan Anda sekarang.

Anda datang dengan puluhan juta orang untuk menjadi bagian dari gerakan bersejarah  yang tidak pernah terlihat oleh dunia sebelumnya.

Di tengah-tengah gerakan ini ada keyakinan penting: bahwa bangsa ada untuk melayani warganya.

Amerika ingin sekolah hebat untuk anak-anak mereka, lingkungan yang aman bagi keluarga mereka, dan pekerjaan yang baik bagi diri mereka sendiri.

Ini adalah tuntutan yang adil dan wajar dari masyarakat yang benar.

Tapi bagi terlalu banyak warga negara kita, realitas yang berbeda ada: Ibu dan anak-anak terjebak dalam kemiskinan di kota-kota pedalaman kita; pabrik berkarat  tersebar seperti batu nisan di lanskap bangsa kita; sistem pendidikan, disiram dengan uang tunai, tetapi membiarkan siswa muda dan cantik kita kehilangan pengetahuan; dan kejahatan dan geng dan obat-obatan yang telah mencuri terlalu banyak kehidupan dan merampok potensi negara kita  yang belum begitu banyak diwujudkan.

Pembantaian Amerika berhenti di sini dan berhenti sekarang.

Kita adalah salah satu bangsa – dan rasa sakit mereka adalah rasa sakit kita. Mimpi mereka adalah impian kita; dan keberhasilan mereka akan akan menjadi kesuksesan kita. Kita berbagi satu hati, satu rumah, dan satu takdir yang mulia.

Sumpah jabatan saya angkat hari ini adalah sumpah setia untuk semua orang Amerika.

Untuk beberapa dekade, kita telah memperkaya industri asing dengan mengorbankan industri Amerika;

Mensubsidi tentara negara lain sementara memungkinkan  penggerusan militer kita;

Kita telah membela perbatasan negara lain sementara menolak untuk membela perbatasan kita sendiri;

Dan menghabiskan triliunan dolar di luar negeri sementara infrastruktur Amerika telah jatuh ke dalam kerusakan dan membusuk.

Kita telah membuat negara-negara lain kaya sementara kekayaan, kekuatan, dan keyakinan dari negara kita telah menghilang di cakrawala.

Satu per satu, pabrik-pabrik tutup dan meninggalkan pantai-pantai kita, bahkan dengan tidak memikirkan jutaan demi jutaan pekerja Amerika ditinggalkan.

Kekayaan kelas menengah kami telah diambil dari rumah mereka dan kemudian didistribusikan ke seluruh dunia.

Tapi itu masa lalu. Dan sekarang kita akan melihat hanya ke masa depan.

Kita berkumpul di sini hari ini untuk membuat keputusan baru untuk didengar di setiap kota, di setiap ibukota negara asing, dan di setiap lorong kekuasaan.

Mulai hari ini, visi baru akan mengatur tanah air kita.

Mulai saat ini, Amerika akan menjadi yang pertama.

Setiap keputusan dalam perdagangan, pajak, imigrasi, di luar negeri, akan dibuat untuk menguntungkan pekerja Amerika dan keluarga Amerika.

Kita harus melindungi perbatasan kita dari kerusakan akibat negara-negara lain membuat produk kita, mencuri perusahaan kita, dan menghancurkan pekerjaan kita. Perlindungan akan menyebabkan kemakmuran dan kekuatan.

Saya akan berjuang untuk Anda dengan setiap napas dalam tubuh saya – dan saya tidak akan pernah mengecewakan Anda.

Amerika akan mulai menang lagi, menang seperti sebelumnya.

Kita akan mendapatkan kembali lapangan pekerjaan kita. Kita akan mendapatkan kembali perbatasan kita. Kita akan mendapatkan kembali kekayaan kita. Dan kita mendapatkan kembali mimpi-mimpi kita.

Kita akan membangun jalan baru, dan jalan raya, dan jembatan, dan bandara, dan terowongan, dan jalur kereta api di seluruh negara kita yang indah.

Kita akan membuat rakyat kita sejahtera dan kembali bekerja – membangun kembali negara kita dengan tangan Amerika dan tenaga kerja Amerika.

Kita akan mengikuti dua aturan sederhana: Beli Amerika dan Sewa Amerika.

Kita akan mencari persahabatan dan niat baik dengan bangsa-bangsa di dunia – tapi kita melakukannya dengan pemahaman bahwa itu adalah hak segala bangsa untuk menempatkan kepentingan mereka sendiri yang pertama.

Kita tidak ingin memaksakan cara hidup kita pada siapa pun, melainkan untuk membiarkannya bersinar sebagai contoh untuk diikuti semua orang.

Kita akan memperkuat aliansi lama dan membentuk yang baru – dan menyatukan dunia beradab melawan terorisme Islam radikal, yang akan kita basmi sepenuhnya dari muka bumi.

Landasan politik kita akan menjadi kesetiaan total bagi Amerika Serikat, dan melalui kesetiaan kita kepada negara kita, kita akan menemukan kembali kesetiaan kita kepada satu sama lain.

Ketika Anda membuka hati Anda untuk patriotisme, tidak ada ruang untuk prasangka.

Alkitab mengatakan kepada kita, “betapa baik dan menyenangkan ketika anak-anak Allah hidup bersama dalam kesatuan.”

Kita harus mengutarakan pikiran kita dengan terbuka, memperdebatkan perbedaan pendapat kita secara jujur, tetapi selalu mengupayakan solidaritas.

Ketika Amerika bersatu, Amerika benar-benar tak terbendung.

Seharusnya tidak ada rasa takut – kita dilindungi, dan kita akan selalu dilindungi.

Kami akan dilindungi oleh orang-orang besar dan pria dan wanita militer dan penegakan hukum kita dan, yang paling penting, kita dilindungi oleh Tuhan.

Akhirnya, kita harus berpikir besar dan mimpi yang lebih besar.

Di Amerika, kita memahami bahwa bangsa hanya hidup selama ia berjuang.

Kita tidak akan lagi menerima politisi yang hanya bicara dan tidak ada tindakan – terus-menerus mengeluh tapi tidak pernah melakukan apa-apa tentang hal itu.

Waktu untuk bicara kosong telah berlalu.

Sekarang tiba waktunya untuk beraksi.

Jangan biarkan orang lain mengatakan itu tidak dapat dilakukan. Tidak ada tantangan yang dapat menaklkkan hati dan perjuangan dan semangat Amerika.

Kita tidak akan gagal. Negara kita akan berkembang dan makmur lagi.

Kita berdiri pada kelahiran milenium baru, siap untuk membuka misteri ruang, untuk membebaskan bumi dari penderitaan penyakit, dan untuk memanfaatkan energi, industri dan teknologi masa depan.

Sebuah kebanggaan nasional yang baru akan menggerakkan jiwa kita, mengangkat pemandangan kita, dan menyembuhkan keterbelahan kita.

Ini adalah waktu untuk mengingat bahwa kebijaksanaan lama tentara kita tidak akan pernah dilupakan: bahwa apakah kita hitam atau coklat atau putih, kita semua memiliki darah, darah merah yang sama dari patriot, kita semua menikmati kebebasan mulia yang sama, dan kita semua menghormati bendera hebat Amerika yang sama.

Dan apakah seorang anak lahir di perkotaan Detroit atau dataran tinggi Nebraska, mereka melihat langit malam yang sama, mereka mengisi hati mereka dengan mimpi yang sama, dan mereka diresapi dengan nafas kehidupan yang sama dari sama Pencipta.

Jadi untuk semua eakyat Amerika, di setiap kota yang dekat dan jauh, kecil dan besar, dari gunung ke gunung, dan dari laut ke laut, dengarkanlah kata-kata ini:

Anda tidak akan pernah diabaikan lagi.

Suara Anda, harapan Anda, dan impian Anda, akan menentukan nasib Amerika. Dan keberanian dan kebaikan dan cinta Anda selamanya akan membimbing kita sepanjang jalan.

Bersama-sama, Kita Akan Membuat Amerika Kuat Lagi.

Kita Akan Membuat Amerika kaya lagi.

Kita Akan Membuat Amerika Bangga Lagi.

Kita Akan Membuat Amerika Aman Lagi.

Dan, Ya, Bersama, Kita Akan Membuat Amerika Jaya Lagi. Terima kasih, Tuhan memberkati Anda, dan Tuhan memberkati Amerika.

Teks asli dalam Bahasa Inggris adalah sebagai berikut:

Chief Justice Roberts, President Carter, President Clinton, President Bush, President Obama, fellow Americans, and people of the world: thank you.

We, the citizens of America, are now joined in a great national effort to rebuild our country and to restore its promise for all of our people.

Together, we will determine the course of America and the world for years to come.

We will face challenges. We will confront hardships. But we will get the job done.

Every four years, we gather on these steps to carry out the orderly and peaceful transfer of power, and we are grateful to President Obama and First Lady Michelle Obama for their gracious aid throughout this transition. They have been magnificent.

Today’s ceremony, however, has very special meaning. Because today we are not merely transferring power from one Administration to another, or from one party to another – but we are transferring power from Washington, D.C. and giving it back to you, the American People.

For too long, a small group in our nation’s Capital has reaped the rewards of government while the people have borne the cost.

Washington flourished – but the people did not share in its wealth.

Politicians prospered – but the jobs left, and the factories closed.

The establishment protected itself, but not the citizens of our country.

Their victories have not been your victories; their triumphs have not been your triumphs; and while they celebrated in our nation’s Capital, there was little to celebrate for struggling families all across our land.

That all changes – starting right here, and right now, because this moment is your moment: it belongs to you.

It belongs to everyone gathered here today and everyone watching all across America.

This is your day. This is your celebration.

And this, the United States of America, is your country.

What truly matters is not which party controls our government, but whether our government is controlled by the people.

January 20th 2017, will be remembered as the day the people became the rulers of this nation again.

The forgotten men and women of our country will be forgotten no longer.

Everyone is listening to you now.

You came by the tens of millions to become part of a historic movement the likes of which the world has never seen before.

At the center of this movement is a crucial conviction: that a nation exists to serve its citizens.

Americans want great schools for their children, safe neighborhoods for their families, and good jobs for themselves.

These are the just and reasonable demands of a righteous public.

But for too many of our citizens, a different reality exists: Mothers and children trapped in poverty in our inner cities; rusted-out factories scattered like tombstones across the landscape of our nation; an education system, flush with cash, but which leaves our young and beautiful students deprived of knowledge; and the crime and gangs and drugs that have stolen too many lives and robbed our country of so much unrealized potential.

This American carnage stops right here and stops right now.

We are one nation – and their pain is our pain. Their dreams are our dreams; and their success will be our success. We share one heart, one home, and one glorious destiny.

The oath of office I take today is an oath of allegiance to all Americans.

For many decades, we’ve enriched foreign industry at the expense of American industry;

Subsidized the armies of other countries while allowing for the very sad depletion of our military;

We’ve defended other nation’s borders while refusing to defend our own;

And spent trillions of dollars overseas while America’s infrastructure has fallen into disrepair and decay.

We’ve made other countries rich while the wealth, strength, and confidence of our country has disappeared over the horizon.

One by one, the factories shuttered and left our shores, with not even a thought about the millions upon millions of American workers left behind.

The wealth of our middle class has been ripped from their homes and then redistributed across the entire world.

But that is the past. And now we are looking only to the future.

We assembled here today are issuing a new decree to be heard in every city, in every foreign capital, and in every hall of power.

From this day forward, a new vision will govern our land.

From this moment on, it’s going to be America First.

Every decision on trade, on taxes, on immigration, on foreign affairs, will be made to benefit American workers and American families.

We must protect our borders from the ravages of other countries making our products, stealing our companies, and destroying our jobs. Protection will lead to great prosperity and strength.

I will fight for you with every breath in my body – and I will never, ever let you down.

America will start winning again, winning like never before.

We will bring back our jobs. We will bring back our borders. We will bring back our wealth. And we will bring back our dreams.

We will build new roads, and highways, and bridges, and airports, and tunnels, and railways all across our wonderful nation.

We will get our people off of welfare and back to work – rebuilding our country with American hands and American labor.

We will follow two simple rules: Buy American and Hire American.

We will seek friendship and goodwill with the nations of the world – but we do so with the understanding that it is the right of all nations to put their own interests first.

We do not seek to impose our way of life on anyone, but rather to let it shine as an example for everyone to follow.

We will reinforce old alliances and form new ones – and unite the civilized world against Radical Islamic Terrorism, which we will eradicate completely from the face of the Earth.

At the bedrock of our politics will be a total allegiance to the United States of America, and through our loyalty to our country, we will rediscover our loyalty to each other.

When you open your heart to patriotism, there is no room for prejudice.

The Bible tells us, “how good and pleasant it is when God’s people live together in unity.”

We must speak our minds openly, debate our disagreements honestly, but always pursue solidarity.

When America is united, America is totally unstoppable.

There should be no fear – we are protected, and we will always be protected.

We will be protected by the great men and women of our military and law enforcement and, most importantly, we are protected by God.

Finally, we must think big and dream even bigger.

In America, we understand that a nation is only living as long as it is striving.

We will no longer accept politicians who are all talk and no action – constantly complaining but never doing anything about it.

The time for empty talk is over.

Now arrives the hour of action.

Do not let anyone tell you it cannot be done. No challenge can match the heart and fight and spirit of America.

We will not fail. Our country will thrive and prosper again.

We stand at the birth of a new millennium, ready to unlock the mysteries of space, to free the Earth from the miseries of disease, and to harness the energies, industries and technologies of tomorrow.

A new national pride will stir our souls, lift our sights, and heal our divisions.

It is time to remember that old wisdom our soldiers will never forget: that whether we are black or brown or white, we all bleed the same red blood of patriots, we all enjoy the same glorious freedoms, and we all salute the same great American Flag.

And whether a child is born in the urban sprawl of Detroit or the windswept plains of Nebraska, they look up at the same night sky, they fill their heart with the same dreams, and they are infused with the breath of life by the same almighty Creator.

So to all Americans, in every city near and far, small and large, from mountain to mountain, and from ocean to ocean, hear these words:

You will never be ignored again.

Your voice, your hopes, and your dreams, will define our American destiny. And your courage and goodness and love will forever guide us along the way.

Together, We Will Make America Strong Again.

We Will Make America Wealthy Again.

We Will Make America Proud Again.

We Will Make America Safe Again.

And, Yes, Together, We Will Make America Great Again. Thank you, God Bless You, And God Bless America.

Teks Lengkap Pidato Inaugurasi Donald Trump was originally published on PAPUAPost.com